Terakriditasinya Prodi Kependidikan Islam

STAI Darunnajah 6 bulan lalu tepatnya bulan Oktober tahun 2012 telah dilakukan visitasi oleh dua asesor utusan dari BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi). dengan asesor dari Universitas Yogyakarta dan dari Universitas Banda Aceh. Allhamdulillah dengan seizin Allah SWT telah keluar pengumuman hasil Visitasi 6 bulan yang lalu tepatnya bulan Oktober  tahun 2012. Menurut hasil pengumuman yang ditayangkan diwebsite http://ban-pt.kemdiknas.go.id/, Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah mendapat peringkat B, Prodi Kependidikan Islam SK 097/SK/BAN-PT/Ak-XV/S/II/2013,  adalah suatu hasil yang sangat memuaskan bagi keluarga besar STAI Darunnajah. dengan hasil yang sangat memuaskan ini STAI Darunnajah akan lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik untuk mahasiswa. dengan hasil ini STAI Darunnajah Optimis akan menjadi Sekolah Tinggi Islam yang bergengsi di Indonesia. Amin.

 

Pelatihan website dan jurnalistik Darunnajah Grup ke-6

Darunnajah kembali mengadakan kegiatan pelatihan pengelolaan website dan jurnalistik. Pelatihan bertempat di Gedung Basment Darunnajah 4 Wind dan kegiatan ini pula telah dilaksanakan selama dua hari , yaitu bertepatan dengan hari sabtu dan hari minggu (19-20, april 2014). Adapun peserta-pserta pelatihan website ini tidak lain peserta dari pengelola website dan bagian jurnalistik darunnajah pusat dan cabang, dimana jumlahnya kurang lebih 50 peserta pusat dan cabang.
Pelatihan ini dimulai pukul 08.10 WIB, kegitan ini pula dibuka oleh Sekretaris Umum Yayasan Darunnajah, KH. Musthafa Hadi Chirzin kemarin, hari sabtu (19/4)
Acara dilanjutkan oleh H. Musthafa Zahir, selaku pengelola web Darunnajah Grup. Peserta dilatih mengenali menu-menu dasar yang ada dalam dasar-dasar website
Agar pelatihan ini berjalan dengan baik Ustd Musthofa menargetkan kepada peserta-pesertanya untuk membuat halaman-halama dalam website .
Adapun tugas pembuatan halaman-halaman tersebut sebagai berikut;
- Halaman kontak (hubungi kami)
- Halaman pendaftaran murid baru
- Halaman galeri foto
- Halaman galeri video
- Halaman lokasi
- Halaman daftar berita
- Halaman Profil
- Halaman brosur
Tugas dimaksud selanjutnya pada pelatihan bulan Mei akan dipublikasikan kepada pimpinan-pimpinan pesantren, dinilai dan dievaluasi serta dikembangkan sehingga antara website Darunnajah Grup.Pelatihan  website dan jurnalistik Darunnajah Grup ke-6

Pemikiran Imam Ghazali

BIOGRAFI AL – GHAZALI
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Muhammad bin muhammad , mendapat gelar Imam besar Abu Hamid Al – Ghazali Hujjatul Islam yang dilahirkan pada tahun 450 H/ 1058 M, di suatu kampung Ghazalah, Thusia, suatu kota di Khurasan, Persia. Ia keturunan persia dan mempunyai hubungan keluarga dengan raja – raja saljuk yang memerintah daerah khurasan, Jibal, Irak, Jazirah, Persia, dan Ahwaz. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha mandiri, bertenun kain bulu dan ia sering kali mengunjungi rumah alim ulama, menuntut ilmu dan berbuat jasa kepada mereka.
Pada masa kecilnya, al – Ghazali pernah mengenyam ilmu dari Ahmad bin Muhammad ar – Radzkani di Khurasan. Kemudian dia berguru kepada Abu Nashr al – Isma’ili di Jurjan. Selain itu dia kembali lagi ke Khurasan.
Kemudian al – Ghazali bermukim di Nasaibur. Disana ia berguru kepada salah seorang pemuka agama masa itu, yaitu Al – Juwaini, Imamul Haramain, yang wafat pada tahun 478 H/ 1085 M. Dari al – Juwaini, dia menerima ilmu Kalam, ilmu Ushul dan ilmu agama yang lainnya.
Al – Ghazali menampakkan kecerdasan dan kemampuannya yang mengagumkan dalam berdebat. Sehingga Imam al – Juwaini menjulukinya dengan sebutan Bahrun Mughriq (lautan yang menenggelamkan). Tatkala al – Juwaini meninggal dunia, Al – Ghazali pun meninggalkan Nasaibur menuju ke kediaman seorang pembantu raja yang menjadi menteri Sultan Saljuk.
Diriwayatkan pula bahwa al – Ghazali terlibat suatu perdebatan dengan beberapa ulama dan ahli pikir dihadapan pembantu raja. Berkat kebijaksanaan, keluasan ilmu, kejelasan di dalam memberikan keterangan dan kekuatan berargumentasi, akhirnya Al –Ghazali memenangkan perdebatan ini. Pembantu raja merasa kagum kepadanya, sehingga pada tahun 483 H/ 1090 M, ia diangkat menjadi guru Besar di Universitas Nizhamiyah Baghdad, tugas dan tanggung jawabnya itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Baghdad selain mengajar, ia juga mengadakan bantahan – bantahan terhadap pikiran – pikiran golongan batiniyah, ismaliliyah, filsafat, dan lainnya.
Empat tahun kemudian , dia meninggalkan kegiatan mengajar di Baghdad untuk menunaikan ibadah haji. Seusai menunaikan ibadah haji, ia pergi menuju syam dan hidup di mesjid al – Umawi sebagai seorang hamba yang ta’at beribadah. Ia mengembara di gurun – gurun pasir untuk melatih dirinya dengan merasakan kesusahan. Dia meninggalkan kemewahan, memusatkan dirinya kepada zuhud, dan mendalami suasana rohaniah serta renungan keagamaan. Demikian, dengan baik Al – Ghazali mempersiapkan dirinya untuk kehidupan keagamaan serta mensucikan diri dari noda duniawi, sehingga ia termasuk filosuf sufi yang terkemuka. Disamping pembela dan pemimpin Islam terbesar.
Setelah itu Al – Ghazali kembali lagi ke Baghdad untuk meneruskan mengajarnya. Namun penampilannya sudah berubah dengan sebelumnya. Sewaktu berada di Baghdad, ia tampil sebagai guru ilmu – ilmu agama, sedangkan kali ini dia tidak saja sebagai seorang imam dan tokoh agama yang sufi, melainkan seorang guru yang telah benar – benar mengarifkan ajaran Rasullullah SAW sehingga mendarah daging pada dirinya. Buku yang pertama kali disusunya setelah ia kembali ke Baghdad ialah al – Munqiz Minad Dlalal. Buku ini dipandang sebagai referensi terpenting bagi para ahli sejarah yang ingin mengetahui kehidupan al – Ghazali. Buku tersebut memuat gambaran kehidupannya, terutama pada masa terjadi perubahan di dalam pandanganya perihal hidup dan nilai – nilainya. Dalam buku ini, Al – Ghazali melukiskan proses pertumbuhan iman di dalam jiwa, bagaimana hakikat – hakikat Ilahiah dapat tersingkap bagi manusia, bagaimana manusia dapat mencapai ma’rifat dengan penuh keyakinan yang tidak melalui proses berpikir dan berlogika, melainkan dengan jalan ilham dan pelacakan sufi.
Selang sepuluh tahun setelah kembali ke Baghdad, Al- Ghazali berangkat menuju Naisabur. Disini, dia mengajar beberapa waktu lamanya. Al – Ghazali meninggal dunia di kota Khurasan, kota kelahirannya pada tahun 505 H/ 1111M.

PEMBAHASAN
Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan Islam
1. Pendidikan Islam
Adapun pemikiran pendidikan Al-Ghazali termuat dalam tiga buku karangannya, yaitu Fatihat al-Kitab, Ayyuha al-Walad dan Ihya Ulum al-Din. Menurut pendapat Imam Ghazali, pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Al-Ghazali termasuk kedalam kelompok sufistik yang banyak menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya. Dalam masalah pendidikan, Al-Ghazali lebih cenderung berfaham empirisme. Hal ini disebabkan karena ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya seorang anak tergantung kepada orang tua yang mendidiknya. Hati seorang anak itu bersih, murni laksana permata yang berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apapun.
Al-Ghazali merupakan sosok ulama yang menaruh perhatian terhadap proses internalisasi ilmu dan pelaksana pendidikan. Menurutnya, untuk menyiarkan agama Islam, memelihara jiwa dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu pendidikan merupakan ibadah dan upaya peningkatan kualitas diri. Pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri Allah dan mendapatkan kebahagian dunia-akhirat.
Salah satu keistimewaan Al-Ghazali adalah penelitian, pembahasan dan pemikirannya yang sangat luas dan mendalam dalam masalah pendidikan. Selain itu, ia juga mempunyai pemikiran dan pandangan yang luas mengenai aspek-aspek pendidikan, dalam arti bukan memperhatikan aspek akhlak semata-mata seperti yang di tuduhkan oleh sebagian sarjana dan ilmuwan tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain.
Pada hakikatnya usaha pendidikan di mata Al-Ghazali adalah mementingkan semua hal tersebut dan mewujudkannya secara utuh dan terpadu karena konsep pendidikan yang di kembangkan Al-Ghazali berprinsip pada pendidikan manusia seutuhnya.
2. Kurikulum Pendidikan Islam
Adapun mengenai materi pendidikan Al-Ghazali berpendapat bahwa al-Quran beserta kandungannya adalah merupakan ilmu pengetahuan. Isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan, membersihkan jiwa, memperindah akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Pandangan Al-Ghazali tentang kurikulum dapat dipahami dari pandangannya mengenai ilmu pengetahuan. Ia membagi ilmu pengetahuan kepada yang terlarang dan yang wajib dipelajari oleh anak didik menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit. Ilmu ini tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia dan di akhirat.
2. Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit. Ilmu ini akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena ini dapat membawa kegoncangan iman dan meniadakan.
Dari ketiga kelompok ilmu tersebut Al-Ghazali membagi lagi ilmu-ilmu tersebut menjadi dua kelompok ilmu dilihat dari segi kepentingannya, yaitu:
1. Ilmu-ilmu fardu ain yang wajib di pelajari oleh semua orang Islam meliputi ilmu-ilmu agama yakni ilmu yang bersumber dari kitab suci al-Quran.
2. Ilmu-ilmu yang merupakan fardu kifayah, terdiri dari ilmu-ilmu yang dapat di manfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, seperti ilmu hitung (matematika), ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan industri.
Dari kedua kategori ilmu tersebut Al-Ghazali merinci lagi menjadi:
1. Ilmu al-Quran dan ilmu agama seperti fiqhi, hadist dan tafsir.
2. Ilmu-ilmu bahasa, seperti nahwu sharaf, makhraj, lafal-lafalnya yang membantu ilmu agama.
3. Ilmu-ilmu yang fardu kifayah, terdiri dari berbagai ilmu yang memudahkan urusan kehidupan duniawi seperti ilmu kedokteran, matematika, teknologi (yang beraneka ragam jenisnya), ilmu politik dan lain-lain.
4. Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat
3. Tujuan Pendidikan
Menurut Al-Ghazali tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Selain itu rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud al-Ghazali terhadap dunia, merasa qana’ah (merasa cukup dengan yanng ada), dan banyak memikirkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
Selanjutnya pemikiran tentang tujuan pendidikan Islam menurut Al-Ghazali dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah, Tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlakul al-karimah, Tujuan pendidikan Islam adalah mengantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan ketiga tujuan ini di harapkan pendidikan yang diprogramkan akan mampu mengantarkan peserta didik pada kedekatan diri kepada Allah.

4. Metode Pendidikan Islam
Dalam hal yang berhubungan dengan metode pendidikan Islam, Al-Ghazali menekankan pentingnya bimbingan dan pembisaaan. Dalam menerapkan metode tersebut Al-Ghazali menyarankan agar tujuan utama dari penggunaan metode tersebut di selaraskan dengan tingkat usia, tingkat kecerdasan, bakat dan pembawaan anak dan tujuannya tidak lepas dari hubungannya dengan nilai manfaat. Oleh karena itu dalam metode pendidikannya ini Al-Ghazali cenderung mendasarkan pemikirannya pada prinsip ajaran sufi (penyucian jiwa) dan pragmatis (nilai guna).
Dalam uraiannya yang lain, Al-Ghazali juga meletakkan prinsip metode pendidikan pada aspek mental atau sikap, sebagaimana kata-kata beliau “wajib atas para murid untuk membersihkan jiwanya dari kerendahan akhlak dan dari sifat-sifatnya yang tercela, karena bersihnya jiwa dan baiknya akhlak menjadi asas bagi kemajuan ilmu yang dituntutnya.”
Dan hal tersebut dapat digunakan dengan menggunakan berbagai macam metode antara lain: metode keteladanan, metode bimbingan dan penyuluhan, metode cerita, metode motivasi, dan sebagainya.
Selain itu menurut Al-Ghazali dalam metode pendidikan ini ada dua macam kecenderungan yaitu:
1. Kecenderungan religius sofistis, yang meletakkan ilmu-ilmu agama di atas pemikirannya. Dan melihatnya sebagai alat untuk menyucikan jiwa dan membersihkannya dari kotoran duniawi. Dengan demikian ia menekankan kepentingan akhirat yang menurutnya harus di kaitkan dengan pendidikan agama.
2. Kecenderungan aktualitas manfaat yang tampak dari tulisan-tuliasannya meskipun ia seorang sufi dan tidak suka kepada duniawi, namun dia mengulangi penilaiannya terhadap ilmu-ilmu menurut kegunaanya bagi manusia baik di dunia ataupun di akhiratnya

5. Pendidik
kepribadian sesesorang pendidik adalah lebih penting daripada ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karena kepribadian seorang pendidik akan diteladani dan ditiru oleh anak didiknya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi Al – Ghazali sangat menganjurkan agar seorang pendidik mampu menjalankan tindakan, perbuatan dan kepribadiannya sesuai dengan ajaran dan pengetahuan yang diberikan pada anak didiknya. Oleh Al – Ghazali diibaratkan bagai tongkat dengan bayang – bayangannya. Bagaimanakah bayang – bayang akan lurus, apabila tongkatnya saja bengkok.

Kemudian Al – Ghazali mengemukakan syarat – syarat kepribadian seorang pendidik sebagai berikut:
1) Sabar menerima masalah – masalah yang ditanyakan murid dan harus diterima baik.
2) Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih kasih.
3) Jika duduk harus sopan dan tunduk, tidak riya atau pamer.
4) Tidak takabbur, kecuali terhadap orang yang zalim, dengan maksud mencegah dari tindakannya.
5) Bersikap tawadu’ dalam pertemuan – pertemuan.
6) Sikap dan pembicaraannya tidak main – main.
7) Menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid – muridnya.
8) Menyantuni serta tidak membentak – bentak orang – orang bodoh.
9) Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik – baiknya.
10) Berani berkata: saya tidak tahu, terhadap masalah yang tidak di mengerti.
11) Menampilkan hujjah yang benar. Apabila ia berada dalam hak yang salah, bersedia ruju’ kepada kebenaran.
6. Peserta Didik
Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka adalah makhluk yang telah dibekali potensi atau fitrah untuk beriman kepada Allah. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah sesuai dengan kejadian manusia, cocok dengan tabi’at dasarnya yang memang cenderung kepada agama Islam.
Al-Ghazali dalam memberikan pendidikan kepada umat, membagi manusia itu menjadi tiga golongan yang sekaligus menunjukkan kepada keharusan menggunakan metode pendekatan yang berbeda pula, yaitu:
a. Kaum awam, yang cara berfikirnya sederhana sekali. Dengan cara berfikir terebut, mereka tidak dapat mengembangkan hakikat-hakikat. Mereka mempunyai sifat lekas percaya dan menurut. Golongan ini harus dihadapi dengan sikap memberi nasehat dan petunjuk.
b. Kaum pilihan, yang akalnya tajam dengan cara berfikir yang mendalam. Kepada kaum pilihan tersebut, harus dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmat-hikmat.
c. Kaum penengkar , mereka harus dihadapi dengan sikap mematahkan argumen-argumen mereka.
Di samping itu Al-Ghazali juga membagi manusia kedalam dua golongan besar, yaitu golongan awam dan golongan khawas, yang daya tangkapnya tidak sama. Oleh karena itu apa yang dapat diberikan kepada golongan khawas tidak selamanya dapat diberikan kepada golongan awam. Dan sebaliknya pengertian kaum awam dan kaum khawas dalam hal sama, sering kali berbeda dan perbedaan itu disebabkan karena perbedaan daya berfikir masing-masing. Bisaanya kaum awam membaca apa yang tersurat dan kaum khawas, membaca apa yang tersirat.
Selanjutnya menurut Al-Ghazali dalam menuntut ilmu, peserta didik memilki tugas dan kewajiban, yaitu:
1. Mendahulukan kesucian jiwa.
2. Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan.
3. Jangan menyombongkan ilmunya dan menentang guru.
4. Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan.
Dengan tugas dan kewajiban tersebut diharapkan seorang peserta didik mampu untuk menyerap ilmu pengetahuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tes Masuk STAI Darunnajah

Hari ini senin, 2 September 2013, telah dilaksanakan tes masuk untuk calon Mahsiswa baru STAI Darunnajah tepatnya jam 09.00 s/d 12.00 wib. untuk tahun akademik 2013-2014 ini tercatat 11 orang mahasiswa Prodi KI/MPI kelas pagi, 15 orang  mahasiswa Prodi KI/MPI, 17 orang mahasiswa Prodi Syari’ah kelas Sore. semoga mereka dapat menimba ilmu dengan sebaik-baiknya di kampus STAI Darunnajah.

Tes ini terbagi menjadi 3 bagian, Tes tertulis (pengetahuan Agama, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab), Tes membaca Al-Qur’an dan Psikotes

Kunjungan Pimpinan Pesantren Darunnajah ke Yordan

Pada tanggal 26 – 29 Mei 2013, rombongan  Pimpinan Yayasan dan Pesantren Darunnajah yang dipimpin  Drs. Mahrus Amin dan KH. Shofan Manaf, M.Si, telah melakukan rangkaian kunjungan kerja ke Yarmouk University (YU), Al-Balqa Applied University (AUU), Royal Institute for Interfaith Studies (RIIFS) dan Kings’ Academy, yang utamanya adalah selain sebagai  studi banding, juga sebagai tidak lanjut dari pendatanganan Memorandum of Understanding antara Yayasan tersebut dengan YU ddan AUU di sela-sela kegiatan International Seminar on Islam civilization and Peace di Jakarta April 2013 lalu.

KEGIATAN PPL SMP SSN 48

Sejak tahun lalu, kami memberanikan diri mengirim mahasiswa ke SMPN yang berstatus SSN. Maksud kami tidak lain adalah untuk meragamkan pengalaman yang didapatkan mahasiswa dan agar STAIDA juga dikenal lebih luas lagi di masyarakat. Tahun lalu kami mengirimkan mahasiswa ke SMP SSN 245 di jalan H. Mukhtar Jakarta Selatan.