Masih Rumus 4 angka

4..

Kisah Abid dan Setan yang salah meletakkan rumus 4 angka. Kisah ini diambil dari kitab Ihya’ Ulumuddin karangan hujjatul islam imam Ghazali

Pada zaman dahulu kala ada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil, sebut saja dia abid ( = ahli ibadah). Suatu hari ia didatangi oleh beberapa orang untuk mengadukan tentang kebiasaan yang ada di sekitar tempat tinggal si abid. Mereka mengatakan bahwa ada suatu kaum yang menyembah sebatang pohon.

Mendengar hal itu si abid sangat marah dan segera mendatangi pohon sesembahan itu untuk ditebang dengan membawa sebilah kapak. Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh seorang tua yang sebenarnya adalah setan yang menyamar.

“Hendak kemanakah engkau?” tanya setan.

“Aku hendak menebang sebuah pohon yang dijadikan sesembahan oleh orang-orang.” jawab si abid.

“Untuk apa kau lakukan itu? Kau tinggalkan ibadahmu untuk melakukan perbuatan yang sia-sia. Bukankah lebih baik kau teruskan ibadahmu saja?” rayu setan.

“Ini juga ibadah.” kata si abid tegas.

“Tak akan kubiarkan kau menebang pohon itu.” kata setan.

Terjadilah perkelahian antara si abid dan setan yang dimenangkan oleh si abid. Ia berhasil menjatuhkan setan dan menduduki dadanya. Dalam keadaan seperti itu, setan berusaha membujuk si abid, “Tolong dengarkan aku dulu!”

Si abid pun melepaskannya.

“Bukankah Allah tidak mewajibkanmu menebang pohon itu? Pohon itu tak mengganggu ibadahmu dan kau juga tak menyembahnya. Allah juga telah mengutus para nabi, jika Dia menghendaki pasti Dia memerintahkan para nabi untuk menebangnya.” kata setan.

“Apapun yang kamu katakan aku akan tetap menebangnya.” tegas si abid.

Perkelahian pun kembali terjadi dan si abid tetap dapat mengalahkan setan. Namun setan masih tetap berusaha membujuk si abid, “Dengarkan kata-kata terakhirku, aku akan memberikan penawaran yang menguntungkan bagimu.”

“Katakan!” ucap si abid.

Setan mulai melancarkan bujuk rayunya, “Kau adalah orang miskin dan menjadi beban masyarakat. Jika kau biarkan saja pohon itu, kau akan kuberi 3 dinar uang emas setiap hari yang akan kau dapatkan di bawah bantalmu setiap pagi. Kau bisa gunakan uang itu untuk memenuhi segala kebutuhanmu dan keluargamu. Kau juga dapat menolong fakir miskin dan juga menggunakannya untuk mengerjakan amal baik lainnya.

Jika kau tetap akan menebang pohon itu, kau hanya akan mendapat satu pahala. Dan para penyembah pohon itu pasti akan mencari pohon lain.”

Mendengar bujukan manis setan itu, hati si abid merasa tergiur dan akhirnya menerima tawaran itu.

Sesuai perjanjian, si abid memperoleh uang 3 dinar pada dua pagi berturut-turut. Namun pada hari berikutnya, ia tak mendapatkan uang lagi. Ia pun marah lalu mengambil kapak dan menuju pohon tadi.

Setan kembali menghadangnya dengan menyamar sebagai orang tua dan bertanya, “Kau hendak kemana?”

“Aku hendak pergi menebang pohon itu.” jawab si abid.

“Kau tidak akan mampu menebang pohon itu.” ucap setan.

Lalu mereka berkelahi dan ternyata setan berhasil mengalahkan si abid. Si abid pun heran dan bertanya, “Beberapa hari lalu aku bisa mengalahkanmu, kenapa hari ini kau yang mengalahkanku?”

“Kemarin kau bisa mengalahkanku karena kau berjuang semata-mata karena Allah. Tapi sekarang kau berjuang demi uang, karena itulah aku bisa mengalahkanmu.” jawab setan.

Dari kisah di atas jelas sekali adanya perbedaan ketika seseorang melakukan perbuatan semata-mata karena Allah dan perbuatan yang hanya demi uang. Dari kisah tersebut juga dapat dipetik pelajaran bahwa setan tidak akan membiarkan kita melakukan amal kebaikan, ia akan senantiasa berusaha merusak amal kita dengan segala cara. Oleh karena itu kita harus hati-hati terhadap segala tipu daya setan agar tak terjebak ke dalamnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu menjaga rumus 4 angka ini …yaitu “Niat”, karena niat akan membawakan pada amal baik yang ikhlas. Sedangkan ikhlas berdampak besar baik Allah SWT yang menilai serta penilaian dari manusia yang terkadang menjadi inspirasi bagi dirinya sendiri.
Semoga kita tidak salah langkah dalam meletakkan rumus 4 angka ini di dalam hati.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin