Haruskah Mengikuti Negara Lain Dalam Menentukan Awal Ramadhan?

index1Alhamdulillah, kita sudah kedatangan tamu yang agung. Tamu yang ditunggu-tunggu oleh setiap mukmin. Yaitu bulan penuh berkah Bulan Ramadhan. Mengingat keutamaanya yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi karena saking masyhurnya. Sehingga ada baiknya kita berbekal diri dengan ilmu-ilmu seputar Ramadhan dan puasa.

Yang sering menjadi permasalahan menjelang datangnya bulan Ramadhan adalah penentuan awal bulan tersebut. Sehingga banyak yang akhirnya mengikuti negara lain untuk menentukan awal Ramadhan. Karena mereka lebih dahulu melihat hilal di negaranya. Namun bagaimanakah hukumnya? Haruskah kita mengikuti rukyah Negara lain?

Fuqaha’ berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian berpendapat bahwa disatu Negara harus diikuti Negara lain. Ada juga yang berpendapat setiap Negara harus melakukan rukyahsendiri untuk menentukan awal Ramadhan. Lebih jelasnya sebagai berikut.

1. Madzhab Hanafi

Al Kamal Ibnu Al Humam (w. 861) dari kalangan Hanafiyah berpendapat ketika sudah ada yang melihat hilal, maka wajib bagi seluruh muslim untuk mengikutinya. Baik dalam satu Negara ataupun berbeda. Pernyataan ini beliu klaim sebagai pendapat Madzhab Hanafi, ”Dan ketika telah tetap(awal Ramadhan) di suatu kota, maka wajib bagi penduduk kota lain untuk mengikuti. Dengan demikian ketika penduduk belahan bumi barat telah melihat hilal, maka wajib bagi penduduk belahan barat untuk mengikutinya. Dan ini pendapat madzhab secara dhahir.” Hasan Asy Syarbilali (w. 1069) juga berpendapat sama dengan pendahulunya. Di dalam kitabnya Nurul Idhah Wa Najatul Arwah beliau menegaskan, ”Ketika telah terlihat di mathla’ suatu daerah, maka wajib bagi seluruh muslim mengikutinya. Dan ini adalah pendapat madzhab dan fatwa.” Mathla’ adalah tempat terbit atau terlihatnya hilal, matahari dan sebagainya.

2. Madzhab Maliki

Al Qarafi (w. 684) dari kalangan Malikiyah menyebutkan bahwa salah satu cara menetapkan awal Ramadhan adalah dengan mengikuti Negara lain. Dalam kitabnya     Ad-Dzakhirah beliau menyebutkan, ”Dengan cara mendapatkan kabar dari Negara lain yang sudah terlihat hilal. Dan ini pendapat masyhur madzhab.” Ar Ruaini (w. 954) dari kalangan Malikiyah juga menyebutkan bahw salah satu cara menetapkan awal Ramadhan adalah mengikuti rukyah Negara lain. ”Dan (Salah satu cara penetapan awal bulan)juga ketika dikabarkan dari Negara lain maka wajib bagi penduduk Negara tersebut untul puasa karena rukyah yang mencakup semuanya.”

3. Madzhab Syafi’i

An Nawawi (w. 676) dari kalangan Syafi’iyah membedakan antara Negara yang saling berdekatan dan Negara yang berjauhan. Dalam kitabnya Al Majmu’ beliau menjelaskan, ”Ketika hilal untuk bulan Ramadhan terlihat disuatu Negara, dan tidak terlihat dinegara lain, maka ketika Negara tersebut berdekatan dihukumi satu Negara. Sehingga wajib bagi penduduk Negara yang tidak terlihat hilal untuk berpuasa. Namun ketika begara tersebut berjauhan, maka ada dua pendapat yang masyhur. Dan yang paling shohih tidak wajib puasa bagi Negara lain.”

4. Madzhab Hambali

Ibn Qudamah (w. 620) dari kalangan Hanabilah bahwa ketika penduduk suatu Negara telah melihat hilal, maka wajib bagi Negara lain untuk mengikutinya. ”Ketika penduduk suatu Negara telah melihat hilal, maka wajib bagi penduduk negara lain secara keseluruhan untuk berpuasa.” Ibnu Taimiyah (w. 728) juga berpendapat sama dengan Ibnu Qudamah. Yaitu wajibnya berpuasa ketika sudah ada yang melihat Dan kewajiban ini umum untuk semua muslim di Negara manapun. ”Rukyahnya sebagian Negara merupakan rukyah untuk semuanya.

Demikianlah beberapa pendapat ulama tentang masalah ini. Pendapat manapun yang kita pilih bukanlah masalah. Asalkan kita bisa saling menghormati satu sama lain.

By : Fazzan, MA., Ph. D

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin