STAI DARUNNAJAH JAKARTA

Dosen dan Mahasiswa STAI Darunnajah mengikuti IIIT Syawwal Summer Camp

STAIDA Online – Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah mengutus perwakilan dosen yaitu Farah Diba M.Ikom dan 8 mahasiswa salah seorang diantaranya M. Faris Dzikrul Kholik untuk mengikuti IIIT Syawwal Regional Summer Camp yang diselenggarakan IIIT (The International Institut of Islamic Thought) pada tanggal 5-6 Juni 2021 secara daring melalui media zoom meeting.

Forum ini diikuti oleh sejumlah 129 peserta dari berbagai negara diantaranya Indonesia, Malaysia, Amerika, Tunisia, negara kawasan Asia dan Eropa lainnya.

Adanya forum sebagai wadah diskusi bagi para generasi muda Islam yang akan menjadi para pemimpin di masa yang akan datang nantinya, karena akan ada banyak tantangan yang akan dihadapi oleh generasi muda sekarang.

Kegiatan summer camp ini dimulai pada pukul 9.00 pagi waktu Malaysia dengan pembicara pertama yaitu Dr. Abdul Munim Sombat Jitmoud yang menerangkan tema Western Islamization dan bagaimana kita selaku institusi pendidikan Islam untuk senantiasa melakukan upaya Islamisasi di setiap bidang studi yang kita ajar.

Beliau juga mengumpamakan proses Islamisasi sebagai perantara western dan eastern menyatu layaknya menara kembar Twin Tower Malaysia dimana jembatan tersebut adalah proses Islamisasi ketika pendidikan Islam diterapkan kepada generasi kita.

Sejatinya setiap institusi pendidikan Islam seharusnya senantiasa melibatkan Allah dan Rasulnya dalam semua hal, dimana dalam studi kasus pun kembali merujuk kepada al-Quran.

Narasumber lain Prof. Dr. Mohamed Aslam Haneef guru besar Ekonomi dari kampus IIUM mengungkapkan, “Di dunia Islam, sistem pendidikan tidak menghasilkan manusia yang memahami pandangan dunia dan peradaban Islam. Yang dimana pada prinsipnya persoalan pendidikan Islam tidak lepas dari beragam persoalan lainnya,” terangnya.

Beliau menambahkan, “Pendidikan Islam selalu terikat dengan kehidupan terutama unsur manusianya yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan juga manusia khususnya umat muslim mampu menjadi salah satu faktor kemajuan pendidikan,”.

Selain itu materi pembaharuan atau Tajdid pun dikemas dengan sangat apik oleh Prof. Dr. Koutoub Moustapha Sano bagaimana beliau menyemangati para peneliti Islam untuk berupaya masuk ke sebuah sistem untuk melakukan sebuah perubahan yang mana perubahan tersebut pun dapat berdampak untuk Islam. Bagaimana kita dapat merubah suatu peraturan yang bertentangan dengan Islam di sebuah pemerintahan ketika kita tidak di dalamnya.

“Ketika kita ingin merubah sistem pendidikan, maka rasakan dan jadilah seorang pendidik, baru kita dapat mengetahui seluk beluk alasan mengenai proses tersebut, apabila kita di dalamnya,” jelasnya.

IIIT Syawwal Summer Camp membuat 6 grup diskusi sharing mengenai beberapa isu terkait 1) Bagaimana memperkuat ukhuwwah antara umat Islam 2) Apa cara yang terbaik untuk mengajarkan sejarah Islam kepada kaum muda 3) Bagaimana anak muda seimbang belajar antara pengetahuan aqli dan naqli 4) Bagaimana cara mempromosikan ide-ide integrasi Islamisasi ilmu di universitas 5) Bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sejalan dengan prinsip Islam.

Pentingnya mendidik generasi muda melalui kajian sejarah Islam menjadi salah satu tema diskusi. Hal ini tentu saja semakin menguatkan pondasi alasan dibentuknya Kursus Kajian Sejarah Islam yang dibuka oleh STAIDA tahun ini.

Generasi muda saat ini begitu kritis terhadap apapun sehingga mereka perlu diajarkan sejarah Islam sebagai pondasi utama, ketika mereka tahu seluk beluk Islam dari awal, mereka pun akan semakin terbuka menerima proses pendidikan Islam. Berdasarkan diskusi tersebut, storytelling adalah metode yang lebih baik dibandingkan tanya jawab untuk mengajarkan sejarah Islam kepada generasi muda masa kini.

Reporter:

Farah Diba, M.Ikom, Dosen STAIDA                                                                                                                                                   M. Faris Dzikrul Kholik, Mahasiswa Semester 2 STAIDA