Cerita PPL Mahasiswa Luar Negeri

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Sebelum saya mulai menceritakan cerita saya di PPL, saya ingin mengungkapkan apa yang saya rasakan sekarang ketika saya menulis pengalaman yang tidak dapat saya lupakan dalam hidup saya karena pengalaman ini sangat menarik.

Ghita Serrid mahasiswi luar negeri di STAIDA Jakarta

Pendidikan dan menjadi guru bukan hanya profesi yang kami amalkan demi gaji bulanan, tapi merupakan penyampai pesan, hampir seperti rasul atau utusan. Betapa menyenangkan menatap mata anak-anak dan menemukan kegembiraan yang luar biasa dalam diri mereka ketika mereka mengetahui sesuatu yang baru dalam hidup mereka.

Hal baiknya dalam mengajari anak-anak, bahwa mereka seperti halaman kosong. Guru membantu untuk memulai, menorehkan, dan membentuk sesuatu. Jika hal itu baik untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan dan membantunya secara perkembangan  sosial, psikolog, motorik, bahasa, agama dan kognitif, jadi anak itu tumbuh, dia akan cocok untuk masyarakat dan bergerak maju dalam masyarakat.

Untuk itu, guru harus melakukan profesi ini karena menyukainya. Karena semuanya diketahui jika kami menyukainya, kami melakukannya dengan jujur, dengan suka cita dan kebahagiaan, terutama guru.  Ini adalah ekspresi hatiku saat ini. Saya sangat berterima kasih untuk semua orang yang akan membaca cerita menarik saya di PPL di RA Alathfal.

Hari Pertama PPL

Hari senin 11 Oktober 2021 adalah hari pertama PPL. Hal pertama yang saya mulai dalam perjalanan menyenangkan saya sebagai guru, saya dan teman-teman di kelompok kedua, kami pergi untuk mengenal para guru dan kepala sekolah TK, dan guru pembimbing kami yang luar biasa, Ibu Sri Nurlaily  datang bersama kami, untuk itu kami sangat berterima kasih.

Keesokan harinya, saya dan teman-teman datang untuk belajar memahami tentang sekolah, sejarah dan kondisinya. Setelah itu, kami bertemu dengan Ibu guru-guru RA Alatfal untuk mengenal program studi dan jadwal, dan kami diberi pengarahan tentang beberapa kegiatan.

Guru-guru sangat baik kepada kami dan memiliki senyum yang indah. Mereka menyambut kami dengan hangat dan ramah seolah-olah kami seperti teman-teman mereka. Kemudian kami memasuki kelas untuk melihat anak-anak dan menyapa mereka.

Sebelumnya, saya ingin memberi tahu  tentang perasaan saya pada hari itu. Saya sangat takut dan saya berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut saya kepada anak-anak, karena ini pertama kalinya saya bertemu dengan anak-anak. Selain itu, saya takut mereka tidak akan mengerti aksen atau logat saya, tapi, alhamdulillah, semua anak mengerti saya dan meresponnya dengan baik.

Minggu Kedua PPL

Di minggu kedua, ada kesepakatan bahwa masing-masing akan menemani guru-guru di dalam kelasnya. Kami mulai menerima anak dari pintu TK. Saya dan teman saya, Nina menyambut anak-anak  di pintu dan saya ingat wajah mereka tersenyum dan orang tuanya juga.

Hal pertama yang kami berikan dan ajarkan kepada anak-anak adalah tentang cara handrub yang benar, misalnya mengusap punggung dan sela-sela jari dan sebagainya. Ini juga merupakan kegiatan gerakan setiap pagi.

Kami memeriksa suhu anak-anak dan memastikan semua anak memakai masker karena situasi kami saat ini dalam pandemi Corona. Setelah kami memastikan semua anak hadir, kami menemani mereka dari awal pembelajaran sampai akhir.

Saya mengikuti pelajaran mewarnai. Guru memberi anak-anak gambar dengan cetakan masjid di atasnya dan mengarahkan anak-anak tentang cara mewarnainya dengan memberi contoh gambar berwarna yang ditempelkan di papan tulis.

Saya memperhatikan anak-anak yang belum bisa mewarnai dan saya dapat membantu mereka. Saya melihat beberapa anak mewarnai dengan cepat dan beberapa dengan lambat, dan saya menemukan bahwa mereka yang mewarnai secara perlahan itu cantik dan rapi. Ini juga membantu saya mendapatkan gambaran tentang anak-anak yang akan saya pelajari sendiri antara saya dan mereka saja.

Keesokan harinya, guru memberi saya kesempatan dengan beberapa anak untuk diajak bekerja sama. Setelah saya bimbingan dan membantu anak-anak, itu adalah kegembiraan bagi saya karena guru menyukai tugas yang saya berikan untuk dua anak yang bersama saya karena itu merupakan hal yang baru bagi mereka. Saya memberi tugas gambar, misalnya cara menggambar bulan sabit, dan saya sangat senang hari itu.

bersambung

Kontributor: Ghita Serrid Mahasiswi STAIDA asal Maroko