Dosen PIAUD Mengikuti Webinar Digital Parenting

Digital-Parenting

Bagikan:

Digital Parenting

Sebagai usaha untuk terus mengembangkan kompetensi dan keilmuwan, salah satu dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini Universitas Darunnajah ibu Huda S. Kamalie M.Psi, Psikolog memgikuti webinar tentang “Digital Parenting” yang diselenggarakan oleh Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) sebagai bagian dari Kongres HIMPSI XIV. Narasumber pada webinar ini adalah Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog dari Universitas Gajah Mada.

Pada hakikatnya, teknologi adalah sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperllukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Namun, seiring berkembangnya zaman, kehadiran era digital bersamaan dengan berkembangnya teknologi menjadi pisau bermata dua. Disatu sisi, hadirnya era digital dapat memberikan keuntungan ‘terutama’ intensitas dan kecepatan penyampaian pesan. Namun, disisi lain meningkatkan kompleksitas interaksi.

Dengan munculnya kemudahan akses memperoleh informasi saat ini, sangat diperlukan pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai cara mengontrol dalam penggunaannya sehingga tidak menjadikan kemudahan teknologi tersebut berdampak negatif atau bahkan merugikan generasi bangsa. Selain dampak positif yang diberikan, berdasarkan penelitian yang disampaikan oleh Prof. Tina dalam webinar ini, terdapat pengaruh negatif teknologi digital terhadap remaja dan anak, diantaranya;

  • Kesejahteraan fisik; seperti munculnya pegal disekitar leher, bahu, pinggang, dll.
  • Kehadiran informasi yang salah; memunculkan efek nocebo (merasakan sakit akibat paparan informasi yang diterima, sedangkan pada kenyataannya fisiknya baik-baik saja) dan juga hoax
  • Sedentary lifestyles; menurunkan intensitas individu untuk bergerak dan beraktivitas akibat penggunaan teknologi
  • Gangguan tidur, dan
  • Kesejahteraan psikologis; rentan gejala depresi yang ditimbulkan oleh perbandingan sosial, dan paparan hal-hal negatif lainnya.

Selain pada remaja dan anak, adapun Permasalahan pengasuhan berkaitan dengan digitial;

  • Akses kebebasan jadi lebih luas, terutama bagi anak-anak yang difasilitas gadget berinternet yang tidak disertai pendampingan oleh pihak otoritas
  • Role model; perilaku sosial anak mencerminkan perlakukan yang diterima di rumah, seperti orangtua (termasuk dalam konteks media digital) yang juga aktif menggunakan sosial media.
  • Technoference; yaitu gangguan dalam interaksi interpersonal atau waktu kebersamaan yang muncul dari peralatan digital atau teknologi, contoh; saat keluarga sedang membahasa masalah penting, namun ada panggilan telfon masuk. Berbagai interupsi dapat muncul selama percakapan sedang terjadi, kegiatan rutin waktu makan atau bermain.

 

DIGITAL PARENTING

Adalah konsep yang merujuk pada bagaimana strategi orang tua semakin terlibat dalam mengatur hubungan anak-anak mereka dengan media digital, serta bagaimana orang tua melibatkan media digital dalam aktivitas sehari-hari dan praktik pengasuhan anak, serta mengembangkan bentuk-bentuk pengasuhan yang muncul.

(Mascheroni, Ponten, dan Jorge, 2018)

Adapun tugas sederhana orangtua di era digital;

  1. Membimbing cara penggunaan media digital; terutama untuk anak sekolah, pra sekolah, dan juga remaja. Hal ini bisa dilakukan jika orangtua memiliki pemahaman mengenai penggunaan digital yang tepat
  2. Mengenalkan konten digital yang dikonsumsi; diantaranya mencegah anak-anak terpapar konten yang belum sesuai dengan usianya. Pilihlah konten yang sesuai dengan kebutuhan usia perkembangannya.

Bagaimana cara menerapkannya,

  1. Enabling mediation; peningkatan peluang daring (orangtua terkoneksi dan terlibat dengan anak melalui media daring, seperti whatsApp, instagram dll) -> ketika orangtua dan anak terampil secara digital
  2. Restrictive mediation; upaya pengurangan resiko daring agar anak tidak terpapar hal negatif -> biasanya digunakan oleh orangtua dan anak yang kurang terampil secara digital

Risk management strategies;

(Farrugia & Lauri, 2018)

Enabling Restrictive
· Lebih mengembangkan kualitas relasi dengan anak

· Adanya keterbukaan dan kejujuran

· Orang tua mengajarkan nilai-nilai dan keterampilan hidup

· Anak mengetahui benar dan salah

·  Adanya kepercayaan terhadap anak

·  Orang tua menggunakan pengalaman-pengalamannya terhadap proses membimbing anak

· Adanya pembatasan waktu

·  Waktu online merupakan bentuk reward dari orang tua untuk anak

· Mengedepankan disiplin dalam penggunaan gadget

· Orang tua mengetahui password anak

· Adanya pengecekan dan pemonitoran dalam penggunaannya

· Penyaringan perangkat lunak

· Teknologi dijadikan peralatan di tempat ‘publik’

Prof. Tian Afiatin menyampaikan beberapa rekomendasi screentime untuk anak dan remaja, diantaranya;

  • Hindari waktu menatap layar untuk anak di bawah usia dua tahun. Perhatikan penggunaan perangkat pengasuhnya juga
  • Pilih konten pendidikan untuk anak-anak usia prasekolah dan bergabunglah dengan tontonan mereka bila memungkinkan
  • Pantau konten yang diperlihatkan anak-anak yang lebih besar (film dan game dengan rating dewasa)
  • Selidiki kontrol orangtua pada perangkat
  • Prioritaskan waktu layar interaktif seperti penggunaan komputer daripada opsi yang lebih pasif seperti televisi
  • Dorong dan panutan keseimbangan anatara waktu layar dan aktivitas lainnya
  • Tempatkan batasan di sekitar layar jika diperlukan, misalnya, tidak ada penggunaan layar di dekat waktu tidur dan tidak ada perangkat di kamar tidur
  • Diskusikan jebakan media sosial dengan remaja, seperti potensi cyberbullying dan pengeditan gambar yang realistis
  • Periksa aktivitas anak yang sudah remaja secara teratur, dan waspada untuk setiap perubahan suasana hatinya

Selain mengontrol dan mengawasi penggunaan teknologi dan digital, orangtua juga perlu memahami penggunaan yang tepat bagi diri mereka; hal ini dikarenakan penggunaan teknologi pada anak salah satunya adalah hasil dari penggunaan teknologi pada orang tua di rumah. Dalam digital parenting, dikenal juga istilah sharenting, yaitu;

  • Kebiasaan orangtua menggunakan media sosial untuk membagikan berita, gambar, dan konten lainnya tentang keluarga atau anak mereka
  • Banyak anak memperoleh identitas digital sebelum mereka bisa berbicara, atau bahkan sebelum mereka lahir dari rahim ibunya
  • Sebagai orangtua, pengguna digital melakukan sharenting untuk berbagi tentang keseruaan dan tantangan pengasuhan bersama keluarga, teman, dan relasi virtual.

Terdapat empat tipe komunikasi dalam kegiatan sharenting;

(damkjaer, 2018)

  • Family-oriented; 1) Orangtua menganggap bahwa menggunakan facebook dapat menciptakan dan memperlihatkan narasi tentang identitas keluarganya, 2)
  • Peer-oriented; 1) digunakan untuk mengekspresikan dedikasi terhadap ..
  • Oppositional; ditandai dengan keengganan atau resistensi khususnya terhadap praktik berbagai konten keluarga
  • Non-use; tidak menggunakan media sosial

Selain banyaknya orang tua yang aktif menggunakan teknologi dan sosial media, ditemukan pula orang tua yang memilih untuk menjadi anti-sharenting

  • Mengapa? Karena ada parents main fears;
  • ‘stranger danger’ -> pengaruh orang asing dalam kehidupan digital anak
  • potensi penyalahgunaan foto anak untuk komersial
  • jejak digital yang dibagun orangtua tentang anaknya

Orang tua mulai perlu menyadari pentingnya untuk tidak menyediakan jejak digital apapun yang dapat membuat anak nantinya merasa malu. Orang tua juga perlu memiliki kesadaran bahwa mereka perlu mempertimbangkan reaksi anak, ketika anak mulai besar dan memahami bahwa orangtua membagikan foto mereka (tanpa persetujuan anak).

Selain memahami bagaimana cara membimbing dan mengawasi anak dalam menggunakan teknologi, orang tua juga perlu menyadari bahwa bagaimana mereka menggunakan teknologi akan dilihat oleh anak dikarenakan pada dasarnya saat di rumah, orang tua adalah role model anak. Oleh karena itu, penggunaan teknologi yang bijak bagi orang tua juga diperlukan guna mendapatkan penggunaan teknologi yang bijak pula pada anak. (Huda S. Kamalie M.Psi, Psikolog)

—————————————-

Website : www.darunnajah.ac.id
Pendaftaran : www.darunnajah.ac.id/pmb/
Whatsapp : 0812-2200-1443
Instagram : @univ.darunnajah
Facebook : Universitas Darunnajah Jakarta