Memutuskan untuk Menjadi Santri Kembali

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Nama saya Dwi Andesta Putri, saya berasal dari provinsi kepulauan bangka Belitung, kabupaten Bangka selatan, Air gegas desa Nyelanding, dan kampus tempat saya menimba ilmu terletak di kota Jakarta, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA) Jakarta.

Pada semester 1 dan 2 lalu saya masih tinggal di rumah yang jauh dari kampus STAIDA karena ketika itu perkuliahan dilakukan secara daring melalui media zoom meeting dan kadang juga google meet.

Dan alhamdulillah kampus ini juga memberikan kesempatan saya menjadi salah satu penerima beasiswa KIP.

Untuk di tahun ini tepatnya di semester 3 saya mengambil sebuah keputusan dan tanpa ada unsur paksaan dari orang lain, saya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta dan tinggal di Pesantren Mahasiswa (PESMA).

Keputusan ini sudah menjadi keputusan yang sangat saya yakini dari diri dan hati, mengingat saya sudah menjadi santri cukup lama sekitar 7 tahun dan 1 tahun mengabdikan diri di pondok Pesantren Daarul Istiqomah Air gegas, tempat saya menuntut ilmu di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah.

Dengan mengambil keputusan ini otomatis kehidupan bebas yang saya rasakan ketika di luar pondok pesantren tidak berlangsung lama. Saya ingat betul dulu saya masih menjadi seorang santri, ingin sekali rasanya cepat lulus dari pesantren serta ingin merasakan hidup bebas tanpa terkekang dengan peraturan dan disiplin pesantren.

Namun setelah saya rasakan hidup bebas dari peraturan pesantren saya malah merasa hampa. Jika biasanya dahulu setiap subuh ada ustadzah yang membangunkan tidur untuk solat subuh, sedangkan saat masuk di bangku kuliah tidak ada. Bahkan terkadang solat subuh pun terlambat dan merindukan budaya antri ketika di pondok baik itu antri makan, mandi dan antri lainnya.

Suasana diskusi pesantren mahasiswi

Semangat Menjalani Kegiatan di Pondok

Sebagai seorang yang pernah menjadi santri, sungguh kehadiran pesantren mahasiswi ini merupakan hal yang menakjubkan sekaligus mengasyikan. Bagaimana tidak, disela-sela kesibukan para mahasiswi berkuliah, di sini diajarkan bahasa asing seperti bahasa Arab dan Inggris. Selain itu juga kita dituntut untuk menjadi mahasiswi yang berakhlakul karimah serta menjunjung tinggi rasa kekeluargaan.

Waktu saya masih menjadi santri saat duduk di madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya kerepotan dalam membagi waktu antara sekolah dan mengaji, mudah lelah dan mengantuk saat jam sekolah. Dan di sini setiap mahasiswi diharuskan bisa membagi waktu muraja’ah, latihan bahasa, majlis dan waktu kuliah serta kegiatan lainnya.

Beruntungnya jadwal di pesantren mahasiswi ini terbilang cukup fleksibel, dan tidak mengganggu waktu kuliah. Di waktu pagi setelah sholat subuh mahasiswi muraja’ah  dilanjutkan dengan majlis, setelah itu mahasiswi melanjutkan kegiatan pribadi seperti mandi, makan serta bergegas untuk kuliah. Di sore hari setelah sholat maghrib mahasiswi mengaji dan setelah isya mahasiswi latihan bahasa asing yakni bahasa Arab dan Inggris.

Kebanyakan temen-temen dan kakak tingkat saya disini adalah alumni pondok pesantren Darunnajah, baik Darunnajah pusat maupun cabangnya. Motivasi merekapun untuk mondok kembali bermacam-macam. Ada yang karena terinspirasi dari sang pendiri pesantren, ada yang ingin memberikan rasa terimakasih atas pondok yang telah mendidik mereka dari nol hingga sekarang ini dengan cara mengabdikan diri dan lain sebagainya.

Tentunya motivasi pertama dan yang paling utama mahasiswi di sini yaitu karena ingin lebih berdisiplin dan mendalami ilmu Agama. Tapi ada juga beberapa mahasiswi yang bukan alumni Darunnajah yang ingin kembali mondok di pesantren mahasiswi Darunnajah, termasuk saya sendiri.

Kegiatan dan masa studi pesantren mahasiswi di sini tak jauh berbeda dengan pesantren mahasiswi lainnya. Untuk studinya selama empat tahun, dan kegiatannya yaitu mengaji, muraja’ah pagi setelah subuh dan sore setelah maghrib. Dan kegiatan setelah Isya’ yaitu latihan bahasa Arab dan Inggris, serta kegiatan majlis setelah muraja’ah subuh.

Alasan Ingin Mondok Lagi

Alasan pertama saya berkuliah sambil mondok tentunya karena ingin lebih disiplin, jauh dari pergaulan bebas serta ingin mendalami ilmu agama seperti ketika saya mondok di Daarul Istiqomah.

Teman-teman saya pun kebanyakan memiliki alasan yang sama. Ketika di rumah saya merasa sangat lalai, pergaulan pun kadang tidak terkontrol, sering kumpul dengan teman yang kurang bermanfaat, jarang mengaji, sholat kadang tidak tepat waktu, dan sangat merasakan perbedaan ketika mondok.

Di pondok pesantren suasananya sangat mendukung, ada yang mengajak untuk berbuat kebaikan dan memberikan pengaruh yang positif pada lingkungan sekitar.

Kemudian alasan kedua adalah karena saya mahasiswi dari perguruan tinggi Islam, maka saya perlu ilmu tambahan untuk mengimbangi pelajaran di perkuliahan. Semaksimal mungkin jika ada yang tidak saya pahami dalam perkuliahan, bisa saya diskusikan di sini bersama teman, kakak tingkat, maupun ustadzah yang tinggal di lingkungan pesantren.

Jadikan Generasi Muda Islam Sebagai Pemimpin di Masa Depan yang Berakhlakul Karimah dan Tanggung Jawab serta Paham tentang Agama

Pokoknya bagi kalian yang kuliah dimana pun itu, dan terkhusus bagi yang belum pernah mondok sama sekali, saya mengajak dan menyarankan kalian untuk mondok saja. Mondok itu keren loh dan belum keren kalo kalian belum mondok. Karena selain kita dapat ilmu pengetahuan umum di dunia perkuliahan, kita juga dapat ilmu agama di pesantren.

Bukan itu saja sih, banyak sekali pendidikan yang kita dapatkan di dalamnya. Dan sekarang juga banyak kok pesantren-pesantren khusus mahasiswa dan mahasiswi yang letaknya mungkin dekat dengan kampus kalian. Selamat mondok dan selamat jadi santri!

Dwi Andesta Putri
Mahasiswi Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAIDA Jakarta sekaligus santriwati di Pesantren Mahasiswi (PESMA) Darunnajah