Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Mengembalikan Ilmu pada Worldview Islam

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Islam sebagai agama pembawa kebenaran dan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) menjadi sumber pedoman untuk menyelesaikan problematika kehidupan. Namun dalam perkembangannya peradaban Barat yang turun berdasarkan rasio dan panca indra bahkan jauh dari wahyu dan tuntunan Ilahi mulai merasuki tubuh masyarakat muslim. Dengan demikian kelahiran islamisasi ilmu pengetahuan sebagai respon positif atas perkembangan sains modern yang cenderung sekuler dan bebas nilai menjadi hal penting yang perlu dilakukan. Tidak sedikit ilmuwan yang berusaha menghubungkan dan mendamaikan tujuan yang diemban ilmu pengetahuan dengan ajaran agama. Tidak lain diantaranya Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Syed Hossein Nasr, Ziauddin Sardar, dan lain-lain.

Memang tidak bisa dipungkiri kemajuan dan keberhasilan peradaban Barat telah menghasilkan teknologi yang bermanfaat, namun keberadaannya pula menimbulkan bencana untuk manusia, alam maupun etika. Ilmu pengetahuan yang telah terbaratkan seperti (vivisection) yaitu memotong hidup-hidup hewan dan menyiksanya untuk kepentingan bisnis dan menguji obat-obatan, rasisme dan kolonialisme akibat teori Darwin dan kontadiksi Marvin Perry yang mengatakan ilmu pengetahuan sebagai kemudahan dan juga penghancur alam semesta, demikian  hanya segelintir kerusakan akibat ilmu pengetahuan yang telah terbaratkan (wertenized). Oleh karena itu solusi rusaknya ilmu karena terinfeksi westernisasi hanya dapat diatasi dengan Islamisasi ilmu karena Islam dan Barat memiliki perbedaan prinsip dan diametral.

Seiring dengan perkembangannya muncul teori-teori filsafat yang berusaha menjelaskan eksistensi ilmu sehingga ilmu disifati atas ketidaknetralan dalam arti bebas nilai dan tidak sudah berlangsung lama. Seperti Rene Descartes yang menganggap bahwa rasio sebagai satu-satunya pengetahuan yang terbebas dari unsur-unsur keagamaan seperti wahyu, Tuhan, credo, dan nilai agamis dengan diktumnya cogito ergo sum “aku berpikir maka aku ada”.

Lalu muncul filsafat positivism oleh Auguste Comte dan dalam dunia sains berkembang istilah objektivitas ilmu. Sedangkan dalam pandangan Islam ilmu tidak bebas nilai karena dari waktu ke waktu mengalami naturalisasi yaitu adaptasi berdasarkan budaya, agama, paradigma, dan cara pandang tertentu. Maka sains Barat atau modern yang menyatakan sains itu netral atau bebas ilmu merupakan ketidak sesuaian dengan pandangan Islam.

Menurut al-Attas, yang perlu diislamkan adalah ilmu pengetahuan kontemporer atau sains Barat sekarang ini. Berbeda dengan al-Faruqi, ia menyebut istilah Islamisasi ilmu pengetahuan dengan Islamization of Knowledge (IOK), yang dalam bahasa Arab disebut Islamiyyātu al-Ma‘rifah yang bermakna bahwa segala disiplin ilmu (baik kontemporer maupun tradisi Islam) harus “diIslamkan”. Maka dalam hal ini pendapat al-Attas dan al-Faruqi memiliki tujuan yang sama yaitu membendung arus sekularisasi dan dikotomi ilmu pengetahuan modern, namun dengan jalan yang berbeda sesuai konsep pemikiran mereka masing-masing.

Dengan mengetahui dan menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak netral maka sebagai akibatnya ilmu pengetahuan dinaturalisasikan atau diapropriasikan. Ilmu pengetahuan mengalami naturalisasi karena terjadi akulturasi dari luar terhadap budaya yang berlaku di ranah baru. Melalui proses inilah ilmu tersebut kemudian menjadi terasimilasi secara penuh pada tuntutan-tuntutan kebudayaan negeri tersebut, termasuk agamanya. Seperti yang dilakukan ilmuwan muslim terdahulu, naturalisasi ilmu dilakukan dengan menyerap dan mengadaptasi ilmu-ilmu dari Yunani. Naturalisasi atau “Islamisasi” awal Islam ini akan diuraikan pada bagian Sejarah Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Islamisasi menurut al-Attas adalah pembebasan manusia dari unsur magic, mitologi, animisme, dan tradisi kebudayaan kebangsaan serta dari penguasaan sekular atas akal dan bahasanya. Ini berarti pembebasan akal atau pemikiran dari pengaruh pandangan hidup yang diwarnai oleh kecenderungan sekuler, primordial, dan mitologis. Jadi, Islamisasi ilmu pengetahuan adalah program epistemologi dalam rangka membangun peradaban Islam. Bukan masalah “labelisasi” seperti Islamisasi teknologi, yang secara peyoratif dipahami sebagai Islamisasi kapal terbang, pesawat radio, hand phone, internet, dan sebagainya. Bukan pula Islamisasi dalam arti konversi yang terdapat dalam pengertian Kristenisasi.

Sementara itu, al-Faruqi dalam karyanya yang berjudul Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan (1981) menjelaskan pengertian Islamisasi ilmu sebagai usaha “untuk mengacukan kembali ilmu, yaitu untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikir kembali argumen, dan rasionalisasi yang berhubungan dengan data tersebut, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, membentuk kembali tujuan dan melakukannya dengan memperkaya visi dan perjuangan Islam.

Ide pokok Islamisasi ilmu pengetahuan muncul pada akhir abad ke-20 oleh pelopor atau penggagas ide Islamisasi ilmu pengetahuan modern yang pendapat pendapatnya sering dikutip. Ide Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut merupakan ide arus utama (mainstream) dalam perkembangannya digunakan oleh para ilmuwan berikutnya dalam berbagai karya ilmiah. Ilmuwan tersebut sering meneliti, mengeksplorasi, membandingkan, menghubung-hubungkan, dan mengkritisi ide Islamisasi ilmu pengetahuan, mereka adalah pakar ilmuwan muslim pakar yaitu: (1) Syed Muhammad Naquib Al-Attas; (2) Ismail Raji al-Faruqi; dan (3) Seyyed Hossein Nasr. Selain itu ilmuwan yang mempunyai ide sendiri tentang Islamisasi ilmu yaitu Jaafar Syeikh Idris dan Ziauddin Sardar.

Dari sudut metodologi, al-Faruqi mengemukakan ide Islamisasi ilmunya bersandarkan “prinsip tauhid”. Prinsip tauhid ini dikembangkan oleh al-Faruqi menjadi lima macam kesatuan, yaitu (1) kesatuan Tuhan, (2) kesatuan ciptaan, (3) kesatuan kebenaran dan pengetahuan, (4) kesatuan kehidupan, dan (5) kesatuan kemanusiaan.

Dalam menjalankan proses Islamisasi pengetahuan ini, al-Faruqi merumuskan rencana kerja dengan lima tujuan, yaitu:

  1. Penguasaan disiplin ilmu modern;
  2. Penguasaan khazanah warisan Islam;
  3. Membangun relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ilmu modern;
  4. Memadukan nilai-nilai dan khazanah warisan Islam secara kreatif dengan ilmu-ilmu modern;
  5. Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah.

Sedangkan untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, al Faruqi menyusun 12 langkah yang harus ditempuh sebagai berikut:

  1. Penguasaan disiplin ilmu modern: prinsip, metodologi, masalah, tema dan perkembangannya.
  2. Survei disiplin ilmu.
  3. Penguasaan khazanah Islam: ontologi..
  4. Penguasaan khazanah ilmiah Islam: analisis.
  5. Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu.
  6. Penilaian secara kritis terhadap disiplin keilmuan modern dan tingkat perkembangannya di masa kini.
  7. Penilaian secara kritis terhadap khazanah Islam dan tingkat perkembangannya dewasa ini.
  8. Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam.
  9. Survei permasalahan yang dihadapi manusia.
  10. Analisis dan sintesis kreatif.
  11. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam.
  12. Penyebarluasan ilmu yang sudah diislamkan.

Ismail Raji al-Faruqi bersama rekan-rekan lainnya mendirikan Institut Internasional Pemikiran Islam (International Institute of Islamic Thought, IIIT) di Virgina, pada tahun 1981. Lalu menyelenggarakan dan membuat berbagai konferensi, seminar, diskusi, workshop, jurnal, buku, artikel, penelitian, dan usaha-usaha lainnya, ide Islamisasi ilmu pengetahuan dikumandangkan. Salah satu dampak gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan Ismail Raji al-Faruqi adalah berdirinya Universitas Islam Internasional di Malaysia pada tahun 1983.

Al-Faruqi dalam bukunya, ‘Islamisasi Pengetahuan’ mengungkapkan bahwa “Tidak ada harapan akan kebangkitan yang sungguh-sungguh dari ummah kecuali sistem pendidikan diubah dan kesalahan-kesalahannya diperbaiki. Sesungguhnya yang diperlukan bagi sistem itu adalah dibangunnya bentuk yang baru. Dualisme yang sekarang ini dijumpai di dalam pendidikan Muslim, pembagi duaan menjadi sistem Islam dan sistem sekuler harus ditiadakan dengan tuntas.”

Dengan demikian Islamisasi Ilmu sebagai respon positif terhadap kekacauan yang terjadi dalam perkembangan ilmu dimana mengambil perspektif Barat dalam dunia pendidikan tidak ada salahnya, namun ilmu atau pengetahuan tersebut harus dikembalikan kepada relevansinya terhadap pandangan Islam (worldview Islam) karena apabila basis atau pijakan ilmu berbeda dari perspektif agamis maka akan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang jauh dari nalar agama, liberal, tidak absolut dan bebas nilai. Maka Islamisasi sebagai usaha mengembalikan ilmu pada worldview Islam yaitu usaha mengkaji ilmu pengetahuan kontemporer maupun ilmu islam itu sendiri untuk kembali dikaji dengan mengambalikan ilmu tersebut kepada tokoh ulama muslim yang memiliki otoritas dan bersumber pada ajaran-ajaran Islam.

Oleh : Peni Maulidia Julia Dara/ Mahasiswi MPI Semester 3