Menjadi Milenial Pilihan Allah

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Muda merupakan masa dimana para pemuda atau pemudi ingin diakui eksistensi dirinya. Ada yang menunjukkan eksistensinya untuk hal yang positif dan ada juga yang jatuh dalam hal yang negatif.

Bahkan kata bang H. Roma Irama, “Masa muda adalah masa yang berapi-api”. Masa produktif yang jika disalurkan kepada hal yang positif akan mengantarkan diri menjadi yang terbaik di masa depan.

Mahasiswa Akhir usai mengurus pendaftaran wisuda

Tapi, apabila tersalurkan pada hal negatif yang akan terjadi adalah sebaliknya, dan berujung penyesalan di masa tua.

Kata penyair arab (Abi al-Atahiyah):

“Sesungguhnya masa muda, kekosongan dan harta benda adalah yang banyak merusak pribadi seseorang dengan kerusakan yang nyata”.

Karena masa muda dan kekosongan jika kita tak pandai-pandai kita menggunakannya akan jatuh pada kerusakan.

Perlu kiranya kita menilik dan mencari figur yang bisa kita jadikan tauladan dalam ketaatan di masa mudanya.

Adalah kisah ashabul kahfi yang Al-Qur’an ceritakan tentang para pemuda yang gigih mempertahankan keimanan dan ketaatan kepada Allah di tengah kedhaliman para pemimpin dan masyarakatnya yang tidak menyembah Allah SWT.

Apa sajakah hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah perjalanan hidup mereka?

1. Mereka adalah para pemuda yang beriman

siapa itu orang beriman? Jangan sampai kita hanya tahu orang beriman sekedar label diri kita tanpa tahu maknanya. Karena Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

Iman adalah kesatuan kata hati, lisan dan tindakan. Ketika seorang mengatakan saya beriman kepada Allah, maka di dalam hati ia harus tunduk atas kewajiban dan menjauhi kemaksiatan serta tindakan merealisasikan apa yang diyakini hati dan diucapkan lisan.

Dan konsekuensi keimanan adalah ujian, sebagai pembuktian keimanan. Banyak kisah dalam al-Qur’an maupun Hadits yang menceritakan tentang ujian keimanan, diantaranya ashabul kahfi ini, nabi yusuf dengan istri raja, sayyidah A’siah istri firaun dll.

2. Para pemuda tersebut mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah setelah keimanannya

Hidayah Allah akan diberikan bila kita mencarinya. Bila kita dalam kejahatan atau keburukan maka segeralah menjauh dan mencari tempat yang lebih baik lagi. Karena tempat yang buruk hanya akan menambah keburukan pada diri kita dan menjauhkan dari hidayah Allah.

Apa itu hidayah? Hidayah adalah penjelasan atau petunjuk, yang mengantarkan pada taufiq dan ilham. Jadi, ada dua jenis hidayah yaitu petunjuk Allah SWT atau penjelasan melalui lisan rasul-Nya dan kedua adalah taufiq atau ilham yaitu kemudahan dalam menjalankan petunjuk-petunjuk dari rasul sehingga bisa mendapatkan petunjuk yang lebih luas dari penjelasan tersebut.

3. Para pemuda ini berkumpul dan membentuk komunitas dimana dasarnya adalah keimanan kepada Allah SWT.

Di kala sekarang kita akan banyak menemukan komunitas-komunitas yang terbentuk atas dasar hobi misalnya: geng motor, geng vesfa, geng musik atau membuat grup band.

Akan tetapi komunitas yang akan mengantarkan kita ke surga dan masuk di bawah naungan A’rsy Allah adalah komunitas yang mendasarkan terbentuknya atas keimanan.

4. Para pemuda ini melakukan hijrah ke sebuah goa untuk berlindung dari masyarakat yang dolim.

Ketika dirasa hidup untuk melakukan ketaatan dan ibadah tidak nyaman dan aman di suatu tempat, maka menjadi sunah nabawiyyah kita melakukan hijrah mencari tempat yang lebih nyaman untuk ibadah.

Rasulullah SAW. Pun melakukan hal serupa yaitu ketika melakukan dakwah Islam di makkah sedangkan kafir quraisy melakukan ancaman pembunuhan dan penindasan kepada nabi.

Maka kemudian Rasul melakukan hijrah ke Yastrib atau yang sekarang kita kenal dengan madinah munawwaroh.

Ini pun salah satu cara untuk mempertahankan keimanan dan berusaha istiqomah dalam kebenaran agama Islam. Akan tetapi, jika tempat kita sudah nyaman dan mendukung untuk melakukan ketaatan dan ibadah maka tidak alasan kita untuk melakukan hijrah.

6. Para pemuda ini memanjatkan do’a ketika menghadapi kesulitan dalam hidup dan meminta petunjuknya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Do’a adalah senjata terampuh seorang muslim. Ketika tak ada harapan untuk penyelesaian sebuah masalah maka kepada Allah adalah tempat untuk mengadu.

Ketika para pemuda ini berdo’a di depan goa dalam pelariannya dari orang-orang dholim, maka lihat jawaban Allah di ayat setelah secara langsung.

Yang harus kita pahami di sini adalah adanya fiqih surat al-kahfi yaitu bahwa di setiap segala kesusahan pasti setelahnya adalah kemudahan.

”Inna ba’da kulli usrin yusron” bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Ini yang harus kita pahami dari hikmah kisah ashabul kahfi, bahwa mereka mendapatkan kemudahan setelah mereka mendapatkan ujian keimanan.

Nikmat itu berupa rahmat yang Allah curahkan kepada mereka sehingga tertidur 309 tahun dan berupa petunjuk untuk masuk dan melakukan ibadah di dalam goa tersebut.

7. Tempat yang mendukung untuk melakukan ketaatan adalah sebaik-baiknya tempat tinggal sekalipun itu goa.

Coba lihat, bagaimana Allah memberikan mereka petunjuk untuk berlindung di sebuah goa. Bagaimana pun, kita ketahui bahwa goa adalah tempat yang tak terawat, tak ada hal yang menyenangkan di sana.

Akan tetapi Allah memilihkan tempat ini untuk kehidupan mereka dan supaya mereka lebih nyaman melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT. Allah menjanjikan kepada mereka jika mereka masuk ke dalam goa dan menetap di sana untuk berlindung dan beribadah maka akan diberikan rahmatNya dan akan diberikan jalan keluar untuk segala masalah yang mereka hadapi.

Semoga kita bisa meneladani keteguhan iman dan ketaatan para pemuda ashabul kahfi, sehingga kita senantiasa menjadi pemuda atau millenial yang mendapatkan rahmat dan petunjuk Allah SWT. Dalam hidup dan dalam segala masalah yang dihadapi.

Penulis: Zulkifli Reza