Orasi Ilmiah Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin Direktur Pascasarjana UIKA dalam Wisuda ke-22 STAI Darunnajah Jakarta (Bagian 1)

Bagikan:

بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله ولا حول ولا قوة إلا بالله

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Yth. Ketua Umum Yayasan Darunnajah Bpk. KH. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs.

Yth. Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Bpk Dr. KH. Sofwan Manaf, M.Si.

Yth. Ketua STAI Darunnajah Ibu Duna Izfanna, M.Ed., Psy., Ph.D.

Para Wisudawan/i Darunnajah Angkatan 22 beserta keluarga yang berbahagia

 

Saya merasa bersyukur pada Allah SWT pada kesempatan ini dapat bersillaturrahim walaupun secara virtual bersama keluarga besar STAI Darunnajah, para masyayikh, para pimpinan, serta para Pembina STAI Darunnajah Jakarta.

Sebelum saya menyampaikan orasi ilmiah secara singkat, terlebih dahulu saya ingin menyampaikan selamat pada para wisudawan/i Angkatan 22 STAI Darunnajah Jakarta Tahun Akademik 2020-2021 yang diwisuda pada hari ini. Semoga mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan dan semoga saudara-saudara para alumni akan menjadi generasi yang unggul, generasi muda yang sukses dan berakhlaqul karimah. Amien ya Rabbal ‘Alamin

Untuk menjadi generasi yang unggul, sukses, dan berakhlaqul karimah diperlukan beberapa persyaratan antara lain sebagai berikut:

Pertama, memiliki pengetahuan ajaran Islam yang mendalam dan komprehensif (fiqh ad-Dîn/فقه الدين) yang berkaitan dengan semua dimensi kehidupan. Islam adalah Manhaj al-Hayah/kurikulum kehidupan yang mampu menjawab dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan yang semakin berat tantangannya dan semakin kompleks. Dalam bidang ekonomi misalnya, saudara-saudara sebagai bagian dari umat Islam (calon cendekiawan muslim) harus mampu menghadirkan teori-teori sekaligus implementasinya tentang ekonomi kesejahteraan, ekonomi kerakyatan, dan ekonomi kejama’ahan. Kegiatan ekonomi serta aset-asetnya tidak boleh terkonsentrasi dan dikuasai oleh sekelompok orang-orang saja/para aghniya saja. Sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al-Hasyr [59] ayat 7.

…كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ…﴿الحشر: ٧﴾.

“…supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Demikian pula ajaran ZISWAF (zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf) terus dioptimalkan untuk digali dan diditribusikan dengan baik. Sesungguhnya umat Islam itu memiliki berbagai macam potensi. Hanya saja potensi itu belum teraktualisasikan dengan baik. Saudara-saudara sekalian harus mampu menggali potensi yang dimiliki umat yang tersebar dalam berbagai bidang.

Saudara-saudara Wisudawan yang berbahagia

Kedua, disamping fiqh ad-Din (فقه الدين) saudara-saudara harus mengerti dan memahami fiqh al-Waqi’ (فقه الواقع), memahami realitas kehidupan manusia yang berkembang terus dengan cepat, demikian pula dengan perkembangan teknologi yang terjadi harus mampu dikuasai dan dimanfaatan seoptimal mungkin untuk kepentingan kesejahteraan kehidupan manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman [31] ayat 20.

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ. ﴿لقمان: ٢٠﴾.

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman [31]: 20).

Ketiga, Fiqh an-Din dan fiqh al-Waqi’ ini harus diikat dan dibingkai oleh Akhlaqul Karimah. Seperti ash-Shiddiq/kejujuran dalam segala hal. Karena kejujuran ini akan menghantarkan pada kesuksesan dan keberhasilan. Rasulullah SAW bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا. ﴿رواه مسلم﴾.

“Rasulullah SAW bersabda: “Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.”(HR. Muslim).

Demikian pula sifat amanah dalam melaksanakan tugas akan menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan. Berbanding terbalik dengan perilaku atau sifat khianat yang akan menghantarkan pada kesulitan dan kemiskinan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal [8] ayat 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ. ﴿الأنفال: ٢٧﴾.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal [8]: 27).